Jumat, 29 Oktober 2010

Resume MENKEU_ANALISIS BREAK EVEN POINT

Kelompok 8 :
·         Feby Sukma Avianti (1445096072)
·         Nuniek Indriasti Rahayu (1445096069)
·         Zenith Mar’atussolehah (1445097787)
RESUME BUKU MANAJEMEN KEUANGAN
Sumber :
Martono, dkk. Manajemen Keuangan, Ekonisia, Kampus Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta, 2010
BAB
ANALISIS HARGA PER UNIT DAN PULANG POKOK
(UNIT COST AND BREAK EVEN ANALYSIS)

PENGERTIAN ANALISIS PULANG POKOK (BREAK EVEN)
Analisis pulang pokok atau analisis impas (analisis break even) adalah teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya, laba dan volume penjualan (cost-profit-volume analysis). Biaya yang diperhitungkan adalah biaya total yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya Tetap
Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya selalu tetap untuk seluruh jumlah barang yang dihasilkan. Jumlah biaya tetap ini tergantung pada perubahan volume penjualan (jumlah barang yang dihasilkan). Yang termasuk biaya tetap adalah biaya sewa, biaya penyusutan, biaya bunga, gaji pimpinan, biaya asuransi dan sebagainya. Biaya tetap ini akan tetap dikeluarkan walaupun tidak ada barang yang diproduksi atau dihasilkan. Dalam suatu grafik, karena sifatnya yang tetap maka gambar biaya tetap terbentuk garis lurus yang sejajar dengan sumbu kuantitas (sumbu Q). Notasi biaya tetap dalam persamaan biasa diberi simbol FC atau simbol K (konstanta).
Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang besarnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume (jumlah)barang yang dihasilkan atau diproduksi. Oleh karena itu, biaya variabel merupakan fungsi dari kuantitas barang yang diproduksi atau f(Q). Yang termasuk biaya variabel misalnya biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Biaya overhead pabrik ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk kelancaran proses produksi seperti biaya listrik, biaya air, biaya pemeliaharaan mesin pabrik, dan sebagainya.apabila biaya variabel ini digambar dalam suatu grafik, maka bentuknya berupa garis lurus yang memiliki kemiringan positif. Grafiknya mulai dari titik nol (origin) kekanan atas. Grafik biaya variabel dimulai dari titik nol karena apabila perusahaan tidak berproduksi maka perusahaan tidak mengeluarkan biaya variabel (nol) dan semakin banyak barang yang diproduksi maka biaya variabel semakin besar.
Analisis BEP memerlukan beberapa asumsi yang harus dipenuhi :
1.             Biaya didalam perusahaan dapat digolongkan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel. Oleh karena itu biaya yang di keluarkan perusahaan harus dapat diklarifikasikan secara realistik.
2.             Biaya variabel secara total berubah sebanding dengan volume penjualan dan biaya variabel per unitnya tetap
3.             Biaya tetap secara total jumlahnya meskipun terdapat perubahan volume penjualan atau produksi. Biayanya tetap tetapi per unitnya berubah-ubah karena perubahan volume penjualan.
4.             Harga jual per unit tidak berubah selama periode waktu yang di analisis. Harga pada umumnya akan stabil pada jangka pendek karena apabila harga berubah maka break even pun tidak berlaku atau berubah.
5.             Perusahaan hanya menjual atau  memproduksi satu jenis barang. Artinya, hanya terdapat satu jenis produk yang di produksi atau dijual perusahaan. Apabila perusahaan memproduksi lebih dari satu unit produk maka perimbangan atau komposisi penggunaan biaya atas produk yang dijual harus tetap konstan.
6.             Kebijakan manajemen tentang operasi perusahaan tidak berubah secara material dalam jangka pendek.
7.             Kebijakan persediaan barang tetap konstan atau tidak ada persediaan sama sekali baik awal maupun akhir.
8.             Efisiensi dan produktivitas perkaryawan tidak berubah pada jangka pendek.

Break even point akan berubah jika asumsi-asumsi mengalami perubahan :
·                Adanya perubahan harga jual
Jika harga jual naik, dengan asumsi jumlah barang yang diminta, maka titik pulang pokok (BEP) akan turun. Hal ini karena tititk pulang pokok akan diperoleh dengan penjualan barang yang lebih sedikit atau sebaliknya.
·                Adanya perubahan biaya tetap dan atau biaya variabel
Naik turunnya biaya (biaya tetap dan variabel) juga akan mempengaruhi besarnya BEP. apabila biaya naik, berarti kita memerlukan barang yang lebih banyak untuk mencapai titik break even (BEP).
·                Adanya perubahan komposisi penjualan (sales mix)
Analisis BEP merupakan analisis keuangan yang cukup lemah karena asumsinya. Asumsi BEP bahwa perusahaan hanya menjual satu macam produk hampir tidak mungkin terpenuhi. Hal ini karena sangat jarang perusahaan yang hanya menjual satu jenis produk saja. Oleh karena itu, apabila analisis BEP diberlakuakan bagi perusahaan yang menjual barang lebih dari satu macam produk, maka komposisi atau perimbangan biaya dan produk yang di jual harus tetap.
MENENTUKAN BREAK EVEN POINT
1.      Menentukan BEP secara grafik
·      Menggambar grafik fungsi pendapatan (TR), grafik TR akan dimulai dari titik origin (titik nol), hal ini karena pada saat itu perusahaan belum memperoleh pendapatan ketika produksi atau penjualannya sama dengan nol, grafik ini akan naik dari titik nol tersebut kekanan atas.
·      Menggambar grafik biaya tetap (FC)., grafik biaya tetap ini sejajar dengan sumbu kuantitas dari kiri ke kanan hal ini karena grafik biaya tetap menunjukan biaya yang tidak berubah walaupun produk yang dihasilkan berubah.
·      Menggambar biaya total barang (TC), grafik biaya total ini dimulai dari titik potong antara grafik FC dengan sumbu vertikal (dimulai dari grafik FC) kekanan atas memotong grafik TR hal ini karena TC merupakan penjumlahan antara biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar